Showing posts with label method. Show all posts
Showing posts with label method. Show all posts

Wednesday, September 17, 2014

Oh, Drama!

Minggu ini, pembahasan tentang ketenagakerjaan menginjak pada subbab mengenai jenis-jenis pengangguran. Bab yang satu ini memang unik, salah satu rekan guru saya (yang mengajar di bidang IPA) bahkan sempat bercanda dengan setengah kaget; "Hah?! Pengangguran juga dipelajari, ya?!" Begitu katanya..

Pengangguran adalah salah satu masalah Ekonomi Makro. Banyaknya pengangguran menyebabkan produksi agregat menurun, dan hal ini akan menyebabkan pendapatan perkapita menjadi kecil. Sudah menjadi kewajiban bagi kita semua untuk mengetahui hal apa saja yang menyebabkan pengangguran, dan bagaimana cara mengatasinya.

Pengangguran terdiri dari 5 jenis yang berbeda berdasarkan penyebabnya, yaitu: Pengangguran Struktural, Konjuntural, Musiman, Friksional, dan Teknologi. (Saya biasa menyingkatnya SKM Fri Tek) Dengan penyampaian metode ceramah biasa, tentu tidak akan membuat pengajaran menjadi mengasyikan. Oleh karena itu, saya menugaskan siswa untuk membuat drama.

Pertama, saya membagi kelas menjadi lima kelompok. Lalu, saya mengundi tiap kelompok untuk mendapatkan jenis-jenis pengangguran yang berbeda. Sebelumnya, saya sudah mempersiapkan kertas undian lengkap dengan penjelasan pengangguran yang berbeda.



Setelah diundi, tiap-tiap kelompok diberi waktu untuk berdiskusi. Mereka membagi peran dan menyusun dialog. Beberapa sangat kaget ketika saya bilang mereka harus mementaskannya di kelas pada hari yang sama, masih pada jam KBM yang sama. Namun yang lain terlihat sangat antusias.

Alhasil, dari 5 kelompok, hanya 2-3 kelompok yang bisa langsung pentas di setiap kelasnya. Saya cukup dikejutkan dengan kemampuan akting siswa yang jenaka, serta kekompakan mereka dalam menyusun dan menampilkan cerita.

Salah satu yang paling menguras tawa adalah ketika siswa mementaskan drama mengenai pengangguran teknologi. Dalam drama ini, bahkan ada siswa yang mendapat peran sebagai mesin. 😁 Tak kalah lucunya, seorang siswa yang mendapat peran sebagai boss, mendadak lupa skenario dan harus mengintip skrip. Saking nervousnya, ia malah membaca skrip milik narator. Maka ditengah dialog seorang boss yang sedang memecat pegawanya, ia malah membaca "Pada suatu hari... eh?" dan seluruh kelas terpingkal.



Setelah menyaksikan setiap pentas drama, audience diminta untuk membuat tabel ringkasan mengenai apa penyebab utama dari setiap jenis pengangguran tersebut. Kemudian nantinya, setiap kelompok akan ditugaskan untuk mendiskusikan cara mengatasinya.

Sunday, May 11, 2014

The Pre-Test Effect

Minggu ini, materi di kelas Ekonomi adalah materi yang sangat umum dan tidak asing; mengenai Uang dan Bank. Saya berfikir, menjelaskan di depan kelas tentang uang dan bank hanya akan membuat siswa bosan, karena masing-masing siswa sudah memiliki deskripsi masing-masing mengenai apa itu uang dan bank.

Oleh karena itu, saya menggunakan metode pre-test. Tanpa menjelaskan sedikitpun teori-teori uang dan bank, saya ingin tau sejauh mana pengetahuan mereka tentang hal-hal tersebut. 

7 pertanyaan dasar mengenai uang dan bank saya lontarkan, dan harus dijawab siswa tanpa bertanya apa lagi melihat buku. Ternyata pre-test bisa menghasilkan respon yang beragam. Beberapa merasa sulit mendeskripsikan "Apa itu uang?" dalam bahasa yang ilmiah. Mereka juga kebingungan ketika diminta menyebutkan jenis-jenis bank dan produk-produk bank. Akhirnya, jawaban yang ditulis tak sedikit yang mengundang tawa.

"Uang adalah sesuatu yang bisa dipakai untuk membeli dan membayar, bu! Yang bisa dipinjamkan juga.." kata seorang siswa nyeletuk, ketika sesi pembahasan. Seluruh kelas tergelak. "Jadi, kalau tidak bisa dipinjamkan, namanya bukan uang?" Kata siswa yang lain nyeletuk iseng.

Setelah menulis se-konyol apapun jawaban mereka, mereka diperbolehkan mengecek jawabannya dengan materi di buku paket.Saya cukup kaget melihat para siswa begitu excited untuk membuka buku dan mencari jawaban, karena mereka didorong dengan rasa ingin tau-dan ingin memverifikasi jawabannya sendiri.

Ternyata, pre-test punya efek yang bagus. Selain membantu siswa berfikir kreatif mengenai pelajaran yang belum pernah disampaikan, pre-test juga membangun rasa ingin tau siswa.

Friday, April 18, 2014

Question Cards Game

Baiklah, saya memang tidak terlalu ahli dalam membuat nama untuk sebuah permainan. "Question Cards Game" adalah nama dadakan yang saya pikirikan, dan iya, namanya memang mainstream. Konsep tentang metode pembelajaran yang satu ini saya pikirkan dalam waktu yang singkat, sekitar 12 jam sebelum mengajar di kelas, saya gelisah mengingat metode untuk mengajar besok belum matang dipersiapkan. Akhirnya, saya terpikir untuk memberikan soal dengan cara yang "berbeda"

Siswa akan sangat tegang apabila mengetahui kegiatan belajar hari ini adalah mengerjakan soal. Mereka seolah paranoid dengan kalimat "Oke, sekarang keluarkan kertas selembar!". Kenapa saya tau mereka paranoid? Karena setiap saya mengatakan hal itu, siswa selalu menarik nafas berat, beberapa memekik tertahan, dan bertanya "Ulangan, bu?". Bahkan pada kertas selembarpun mereka seolah ketakutan. http://eemoticons.net

Akhirnya, saya berinisiatif untuk membuka pelajaran dengan kalimat yang berbeda kali ini, saya mengatakan "Hari ini kita akan bermain kartu!" http://eemoticons.net Kelas langsung ricuh dan beberapa nyeletuk "Remi bu? Gapleh?" "Kok main kartu sih?" "Wah..aku gak bisa kalau remi.." dan celetukan celetukan lainnya. Alhamdulillah, dari mulai pemberitauhan aturan main sampai akhir permainan, semua siswa terlihat antusias.



Jadi.. inilah yang saya persiapkan:

Materials:
- 12 kartu pertanyaan dengan kode
- 12 kartu jawaban dengan kode yang sama dengan kartu pertanyaan
- Meja belajar di kelas diatur agar siswa dapat duduk belingkar
- Stopwatch atau timer untuk memperhatikan waktu

Aturan Main:
  • Siswa diperbolehkan memilih pasangannya, permainan ini dilakukan secara berpasangan
  • Pada setiap babak, siswa diperbolehkan mengambil satu kartu soal dan diberi waktu tujuh menit untuk mengerjakan soal pada buku tulisnya masing-masing. (Lamanya waktu merupakan kesepakatan bersama. Untuk soal hitungan biasanya membutuhkan waktu lama)
  • Setelah waktu habis, siswa harus menyimpan kembali kartunya
  • Setelah menyimpan kartu, siswa diperbolehkan untuk mengecek kebenaran jawabannya dengan cara melihat kartu jawaban
  • Siswa melakukan skoring sesuai dengan petunjuk
  • Siswa dapat 'menyerah' untuk mengerjakan soal, dengan menyimpan kartu soal dan TIDAK mengecek kebenarannya dengan melihat kartu jawaban
Skoring:
- Setiap jawaban benar mendapatkan nilai +3
- Setiap jawaban salah mendapatkan nilai -1
- Setiap soal yang tidak selesai dikerjakan (siswa menyerah dan tidak lihat kartu jawaban), maka nilainya 0

Dengan aturan skoring mandiri, ini juga memberikan pembelajaran bagi siswa untuk berlaku jujur. Mereka menilai sendiri pekerjaan mereka dan dituntut untuk jujur. Sebelumnya, telah disepakati bahwa pasangan yang mendapat nilai terendah harus mendapatkan hukuman. Hukuman tersebut ditentukan oleh pasangan yang nilainya tertinggi. Hukumannyapun harus edukatif, misalnya menjelaskan salah satu soal di depan kelas, dan sebagainya.

Dengan metode ini, seluruh siswa terpaksa untuk aktif. Setidaknya, semua siswa berusaha untuk 'aman' dari skor terendah. Tugas gurupun lebih ringan, hanya memegang waktu dan mengawasi. Inilah yang dinamakan "student centered learning method", metode belajar tipe "berpusat pada anak" memang membutuhkan persiapan yang matang dari guru.



Saturday, March 22, 2014

Intermezzo Time!

Minggu pertama di bulan Maret ini menjadi minggu yang (cukup) menegangkan bagi para siswa. Karena, hampir seluruh sekolah menengah atas mengadakan UTS (Ujian Tidak Serius- :p ) Itu berarti, minggu kedua disediakan untuk pekan remedial, yaitu pekan perbaikan nilai bagi mereka yang nilainya belum bisa memenuhi KKM.

Sebenarnya, yang merasa horor di minggu-minggu UTS bukan hanya siswa, loh. Guru-pun ikut merasa 'horor'. Pasalnya, seminggu sebelum UTS guru harus mempersiapkan soal. Tidak sembarangan tentunya, harus dengan perhitungan, analisis pencapaian indikator, tingkat kesulitan, dan lain sebagainya. Pada minggu UTS, guru harus mengawas, memastikan tidak ada praktek "korupsi" pada saat ujian. Lalu, setelah UTS selesai, guru harus langsung memeriksa dan memberi skor. Menentukan siswa mana yang perlu perbaikan dan mana yang tidak perlu.

So, everybody seems to be stressed on those two weeks. Siswa stress dengan ujian dan nervous menunggu hasilnya, guru sudah cukup lengkap stressnya mulai dari mempersiapkan sampai skoring. Belum lagi, beberapa siasat harus dilakoni guru ketika memasuki minggu setel;ah UTS; menghadapi kelas yang terbagi dua, mereka yang perlu perbaikan dan mereka yang tidak.

Untungnya, di saat yang cukup stressful ini, saya ingat seorang guru pernah mengadakan permainan yang sampai sekarang sangat berkenan ketika saya masih duduk di sekolah menengah. Saya pribadi nggak tau nama permainan ini sebenarnya apa; Backwriter? Self Assesment? Testimoni-time? Back-comment? Saya ngakak sendiri dengan nama-nama aneh yang saya coba buat. :p

Yap! Begini. :))

Jadi, ketika sebagian siswa harus duduk mengerjakan soal remedial, sebagian yang lain diperbolehkan ikut bermain. Peraturannya gampang, setiap orang harus punya selembar ketas putih yang ditempel di punggungnya, dan semua yang ikut akan berkewajiban mengisi testimoni--saran, kritik, baik yang positif maupun yang negatif. Maka, setiap orang akan bergiliran menulisi dan ditulisi punggungnya oleh semua teman-temannya.

Ada beberapa peraturan yang harus diperhatikan dalam permainan ini, yaitu:
  • Setiap orang harus menulisi dan ditulisi kertas dipunggungnya, baik kritik positif maupun negatif
  • Penulisan dilakukan secara anonim
  • Kritik yang negatif harus disampaikan dengan cara yang baik, tidak menggunakan kata-kata kasar yang mungkin menyinggung hati
  • Usahakan menulis kritik yang membangun, bukankritik yang berpotensi bullying
  • Hati-hati bagi anak laki-laki yang akan menulis di punggung teman perempuannya, harus minta izin dulu. Kalau teman perempuannya risih, kertas boleh dicabut sementara untuk ditulisi, baru kemudian dipasang lagi di punggung teman tersebut. 
You aren't allowed to TALK behind my back, but you allowed to WRITE there :"
Di menit-menit terakhir, siswa diperbolehkan kembali ke tempat duduk untuk kemudian membaca kertasnya masing-masing. Sebagian besar cekikikan, sebagian yang lain penasaran siapa yang menuliskannya, sebagian penasaran dengan kertas temannya yang lain.

Fungsi dari permainan ini adalah penilaian diri sendiri. Terkadang, kita berlaku dan bertingkah tanpa peduli apa yang dirasakan oleh orang lain. Dan terkadang, teman kita memiliki pendapat yang (sebenarnya) baik untuk mengbah sisi negatif kita, namun tidak sempat membicarakannya secara langsung. Maka, dengan permainan inilah semuanya bisa dilakukan! http://eemoticons.net

Thursday, February 20, 2014

Learning Sources are Everywhere!

Memasuki semester genap, materi yang termuat di pelajaran ekonomi tak hanya mengenai teori. Pada semester genap, siswa mulai diajak untuk mengetahui bahwa semua hal yang terjadi di sekitar mereka tidak akan lepas dari teori ekonomi yang termuat di buku mereka. sayangnya, tidak semua siswa ngeh bahwa apa yang dipelajari mereka sekarang tidak jauh dengan apa yang diberitakan reporter cantik di layar televisinya, mungkin karena mereka mampir ke chanel berita hanya beberapa menit.

Oleh karena itu, akhir-akhir ini saya 'memaksa' mereka untuk melihat dunia di sekitarnya dan meminta mereka menghubungkan dengan teori di buku teks mereka. Seperti beberapa minggu lalu, saya meminjam setumpuk koran langganan sekolah dan membawanya ke kelas. Koran bukan hal yang asing, sebenarnya. Tapi baru saat itulah mereka menemukan bahwa kejadian-kejadian ekonomi yang hanya mereka khayalkan di kelas, juga benar-benar terjadi pada negrinya. Seperti inflasi, kemiskinan, pemerataan pendapatan, dan lain sebagainya.





Koran hanya salah satu media untuk menunjukkan pada siswa bahwa apa yang mereka pelajari itu penting. (Mengingat beberapa siswa malas sekolah karena merasa apa yang dipelajari di sekolah itu tidak penting) Dan selain koran, tentu sangat banyak media yang dapat digunakan untuk melengkapi pembelajaran. Terlebih sains.salah satu rekan guru yang mengajar Biologi bahkan menyimpan roti yang sudah berjamur di laci mejanya, "untuk penelitian", katanya.

Minggu depan, saya menugaskan para siswa untuk observasi langsung pada pedagang kaki lima sebagai media (sekaligus metode) pembelajaran kewirausahaan, yaitu menghitung titik balik modal (Break even Point). It gonna be fun! Yap. Sebenarnya, tidak ada alasan untuk malas belajar atau mengajar. Because learning sources are everywhere!

Friday, September 20, 2013

Sistem Ekonomi, Oh My God!!!

Kenapa gue tulis "Oh My God" di judulnya?
Karena siswa-siswa gue menghela nafas ketika gue menulis ini di papan tulis:

TUGAS:
Cari: Pengertian, Sejarah pemikiran, tokoh, ciri-ciri, kelebihan, dan kekurangan dai SISTEM EKONOMI berikut:
  • Sistem ekonomi kapitalis
  • sistem ekonomi sosialis
  • sistem ekonomi campuran
  • sistem ekonomi komando
  • sistem ekonomi pasar
  • sistem ekonomi syariah
Sebentar, gue nggak sejahat itu ngasih tugas sebanyak dan semembosankan-itu. Belum lagi, siswa kelas sepuluh biasanya masih sangat asing dengan istilah dan jenis-jenis sistem ekonomi diatas. Jadi, gue membagi kelas menjadi enam kelompok, kemudian masing-masing kelompok mendapat satu saja sistem ekonomi yang harus ditelitinya. Kalau digambarkan, mungkin kira-kira seperti ini:

Ceritanya, yang merah membahas sistem ekonomi kapitalis, yang hijau kelompok ekonomi sosialis, kuning membahas sistem ekonomi campuran, yang biru komando, kelompok pink membahas sistem ekonomi pasar, dan ungu syariah. Mereka ditugaskan untuk bekerja kelompok mencari informasi selengkap-lengkapnya mengenai sistem ekonominya masing-masing.

Tentunya ini akan memakan cukup banyak waktu dan membutuhkan media internet untuk mencari informasi yang lengkap. Jadi, kerja kelompok yang pertama dijadikan tugas (home work).

Pada pertemuan selanjutnya, setelah masing-masing kelompok menyelesaikan tugasnya dan telah mengetahui masing-masing sistem ekonomi yang berbeda, mereka dipecah kembali ke dalam kelompok yang berbeda. Cara cepatnya, mereka diminta untuk menghitung dari satu hingga enam, tiap kelompoknya. Kemudian, siswa yang mendapat nomor hitungan satu, berkumpul dengan siswa dari kelompok lain yang juga mendapat nomor hitungan satu, begitu juga dengan dua, tiga dan seterusnya.

Alhasil, mereka akan bertemua dengan kelompok barunya, yang nantinya seperti ini:
Voila! They're mixed up ;P
Setiap kelompoknya akan terdiri dari minimal satu siswa yang berasal dari kelompok dengan tugas yang berbeda. (apabila jumlah tidak pas, biasanya akan ada kelebihan personil di beberapa kelompok, hal ini tidak masalah selama dari masing-masing kelompok memiliki perwakilan). Dengan kelompok barunya, setiap siswa bisa saling berdiskusi, bertukar informasi, dan mencaari thu lebih dalam mengenai sistem ekonomi satu sama lainnya.

Diskusi tanpa tujuan yang jelas hanya akan membuat kelas tak terendali, oleh karena itu, selalu ingat: Buat sebuah goal dari setiap diskusi. Dalam diskusi sistem ekonomi kali ini, gue memberikan beberapa soal yang hanya bisa dijawab setelah mereka aktif berdiskusi, diantaranya:
  1. Dari keenam sistem ekonomi tersebut, terdapat beberapa sistem ekonomi yang saling bertentangan satu sama lain, sistem ekonomi apa sajakah itu?
  2. Apabila terdapat sistem ekonomi yang saling bertentangan, manakah sistem ekonomi yang bersifat "penengah"?
  3. Dari keenam sistem ekonomi tersebut, terdapat pula beberapa sistem ekonomi yang saling menyerupai satu sama lain, sistem ekonomi apa sajakah itu?
  4. Menurut pendapat kalian, sistem ekonomi yang manakah yang paling ideal? Diskusikan, dan kemukakan pendapatmu!
Soal-soal tersebut harus didiskusikan untuk mendapatkan jawaban yang tepat, karena masing-masing hanya memegang satu sistem ekonomi. Dengan cara ini, siswa akan terdorong utnuk mempelajari sistem ekonomi yang lainnya. dengan cara ini juga, mereka akan menemukan bahwa, beberapa dari sistem ekonomi yang ditugaskan sebenarnya sama, hanya berbeda nama saja. Seperti sistem ekonomi pasar sebenarnya sama dengan sistem ekonomi kapitalis. ;)

Friday, September 13, 2013

Karakteristik Wirausaha dan Metode Acak Kata

Selain mengajar Ekonomi, gue juga diamanahi untuk mengajar mata pelajaran Wirausaha. Kewirausahaan adalah pelajaran wajib di SMK, tapi untuk di SMA tempat gue ngajar, mata pelajaran kewirausahaan juga dimasukkan sebagai muatan lokal.

Rencana kepala sekolah, pelajaran Kewirausahaan ini hanya akan ada di tahun pertama, jadi gue harus sekreatif mungkin meng-compile SK-KD dari mata pelajaran Kewirausahaan SMK yang notabene lamanya tiga tahun. Salah satu materi yang cukup penting untuk disampaikan adalah mengenai Karakteristik Wirausaha.

Karakteristik wirausaha dirumuskan oleh banyak ahli, namun yang paling terkenal adalah karakteristik wirausaha menurut Bygrave. Berikut Karakteristik Wirausaha menurut Bygrave yang dikenal dengan 10 D:
  1. DREAM (Mimpi)
  2. DECISIVENESS (Tegas)
  3. DOING (Melakukan)
  4. DETERMINATION (Komitmen, Kebulatan tekad)
  5. DEDICATION (Dedikasi)
  6. DEVOTION (Mengabdi)
  7. DETAILS (Rinci)
  8. DOLLARS (Uang)
  9. DESTINY (Nasib)
  10. DISTRIBUTE (Menyebarkan/menyalurkan kewajiban)
Untuk penjelasan lebih lanjut, silakan klik disini.

Menjelaskan mengenai karakteristik, sifat, faktor keberhasilan, dan lain-lain dalam pelajaran Kewirausahaan bisa sangat membosankan apabila dilakukan dengan metode ceramah biasa. Oleh karena itu, untuk mencegah keboringan, gue mencoba salah satu metode pembelajaran interaktif; Metode Acak Kata.

What you need

Potongan huruf. Tulis kesepuluh karakteristik dan gunting per huruf.

Masukkan pada amplop dan beri nomor. Satu amplop mendapat potongan huruf dari dua karakteristik,

Langkah Pekerjaan
  • Bagi siswa kedalam lima kelompok secara acak
  • Bacakan aturan main, sampaikan bahwa masing-masing kelompok akan diberi amplop berisi potongan huruf. Tugas mereka adalah menyusunnya hingga menemukan masing-masing dua karakteristik wirausaha.
  • Setelah siswa paham, amplop dibagikan tanpa boleh dibuka terlebih dahulu
  • Permainan dimulai dan amplop dibuka pada saat bersamaan.
  • Kelompok yang mampu menemukan kata harus melakukan konfirmasi dulu pada guru, untuk mengetahui apakah kata yang mereka temukan tepat
  • Apabila satu kelompok sudah menemukan dua karakteristik, maka tugas selanjutnya adalah ,mencari arti kata tersebut dan menghubungkannya dengan bidang kewirausahaan. 



Sayangnya, gue nggak sempet ambil foto ketika pelaksanaan. Seisi kelas cukup excited dengan suasana kompetisi yang tercipta. http://eemoticons.net
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...